Media

Kembali Ke Media

Apindo Batam: Rupiah Melemah Tak Ganggu Investasi, Ekspor dan Wisata Makin Kuat

Apindo Batam: Rupiah Melemah Tak Ganggu Investasi, Ekspor dan Wisata Makin Kuat

BATAM – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp16.758 per dolar Amerika Serikat justru menciptakan momentum strategis bagi dunia usaha di Kota Batam. Di tengah tekanan terhadap sektor impor, kondisi ini membuka peluang besar bagi industri berorientasi ekspor serta sektor pariwisata.

 

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, menilai pelemahan rupiah tidak serta-merta menjadi penghambat aktivitas industri maupun investasi di daerah tersebut. Justru, struktur ekonomi Batam yang didominasi industri ekspor membuat banyak pelaku usaha memperoleh keuntungan dari situasi ini.

 

Menurut Rafki, sebagian besar investor di Batam menjual produknya menggunakan mata uang dolar AS, sementara komponen biaya produksi seperti tenaga kerja dan operasional dibayarkan dalam rupiah. Kondisi tersebut menciptakan selisih kurs yang memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha.

“Investor yang sudah beroperasi di Batam menjual produk dalam dolar, sementara sebagian biaya mereka dibayar dalam rupiah. Selisih kurs ini memberikan keuntungan tambahan,” ujarnya, Sabtu (17/1/2025).

 

Ia juga menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah tidak berpengaruh signifikan terhadap minat investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) ke Batam. Faktor utama yang menjadi pertimbangan investor, kata dia, tetap pada kepastian regulasi, ketersediaan insentif, serta infrastruktur pendukung.

 

“Minat investasi ke Batam tidak begitu dipengaruhi oleh kurs. Faktor yang lebih menentukan adalah kepastian regulasi, insentif, dan infrastruktur pendukung,” kata Rafki.

 

Dari sisi perdagangan internasional, sektor ekspor menjadi pihak yang paling diuntungkan. Melemahnya rupiah membuat biaya produksi berbasis rupiah menjadi lebih kompetitif ketika dikonversi ke dolar AS, sehingga meningkatkan daya saing produk Batam di pasar global.

 

“Eksportir bisa menurunkan harga jual ke pasar internasional tanpa mengurangi margin keuntungan. Dengan begitu, produk dari Batam bisa makin kompetitif,” jelasnya.

 

Tak hanya industri, pelemahan rupiah juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata di Kepulauan Riau. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap ringgit Malaysia dan dolar Singapura diprediksi mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dari kedua negara tersebut ke Batam.

 

“Uang mereka menjadi lebih besar ketika ditukar ke rupiah. Ini momentum yang tidak boleh dilewatkan,” ujar Rafki.

 

Ia mendorong pemerintah daerah bersama pelaku industri pariwisata untuk bergerak cepat memanfaatkan kondisi ini melalui promosi yang lebih agresif, penyelenggaraan event berskala internasional, serta penguatan daya tarik destinasi wisata di Batam dan wilayah Kepri lainnya.

 

“Tinggal bagaimana kita mempromosikan pariwisata ke sana. Jika momentum ini ditangkap dengan baik, arus wisatawan bisa meningkat signifikan,” katanya.

Meski demikian, Rafki mengingatkan bahwa pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor tetap perlu mewaspadai potensi kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah.

 

Namun secara keseluruhan, ia menilai struktur industri Batam relatif lebih siap menghadapi volatilitas nilai tukar dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia.

 

Sumber: batamstraits.com

Copied.

Berita Lainnya

No Tanggal Publikasi Topik
Daftar Berita
1 Selasa, 22 April 2025 Wali Kota Tebing Tinggi Terima Audiensi Apindo
2 Selasa, 29 Oktober 2024 DPRD Terima Audiensi Apindo DK Jakarta, Bahas Regulasi Pengusaha
3 Kamis, 11 Juli 2024 Apindo Sulut Komitmen Dukung Sulawesi Utara Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Asia Pasifik
arrow top icon