Momentum Rakerkonas APINDO XXXV, APINDO Perkuat Sinergi dengan Kampus untuk Cetak Entrepreneur dan Pencipta Lapangan Kerja
Monday, 03 August 2026
Makassar, 3 Agustus 2026 – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tantangan penciptaan lapangan kerja, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memperkuat investasi pada pembangunan sumber daya manusia melalui program APINDO Goes to Campus. Menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) APINDO XXXV di Makassar, program ini menegaskan komitmen APINDO bahwa penguatan daya saing Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan ekonomi dan investasi, tetapi juga oleh lahirnya generasi muda yang mampu menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani, saat menyampaikan kuliah umum bertajuk "Dari Kampus untuk Indonesia: Membangun Generasi Entrepreneur dan Pencipta Lapangan Kerja di Tengah Ketidakpastian Global" di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (3/8). Melalui APINDO Goes to Campus, APINDO membangun jembatan yang lebih erat antara dunia usaha dan perguruan tinggi agar lulusan Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mampu menciptakan peluang ekonomi baru.
"Ketidakpastian global tidak boleh hanya dilihat sebagai tantangan, tetapi juga sebagai momentum untuk melahirkan generasi yang adaptif, inovatif, dan mampu menciptakan peluang. Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur yang tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi," ujar Shinta.
Menurut Shinta, perubahan geopolitik, transformasi digital, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), hingga perubahan struktur pasar tenaga kerja telah mengubah kebutuhan kompetensi dunia kerja. Karena itu, generasi muda perlu membangun kemampuan berpikir kritis, kreativitas, adaptabilitas, serta keberanian mengambil peluang agar mampu bersaing di tingkat global.
Ia menjelaskan, meskipun ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026, dunia usaha mulai mencermati sejumlah indikator yang menunjukkan perlambatan, mulai dari kontraksi PMI manufaktur, melemahnya optimisme konsumen, hingga penurunan aktivitas ritel. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus semakin berkualitas, mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas.
Di sisi lain, Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi. Dominasi penduduk usia produktif dan generasi muda yang akrab dengan teknologi merupakan keunggulan strategis yang harus dioptimalkan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, serta penguatan ekosistem kewirausahaan. Tanpa transformasi tersebut, bonus demografi tidak akan otomatis menjadi bonus ekonomi.
"Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila kita mampu menciptakan talenta yang produktif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan masa depan. Kampus, dunia usaha, dan pemerintah harus berjalan bersama membangun ekosistem yang melahirkan entrepreneur dan pencipta lapangan kerja, bukan hanya pencari kerja," tegas Shinta.
Melalui APINDO Goes to Campus, APINDO juga memperkenalkan berbagai inisiatif yang telah dijalankan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia dan kewirausahaan nasional, antara lain Gerakan Pengusaha Mengajar, APINDO UMKM Merdeka, dan APINDO UMKM Dashboard. Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya APINDO membangun talenta, memperkuat kapasitas UMKM, serta mempercepat lahirnya wirausaha baru melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Penyelenggaraan APINDO Goes to Campus dalam rangkaian Rakerkonas APINDO XXXV mencerminkan pandangan APINDO bahwa penguatan ketahanan ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada perbaikan iklim investasi dan daya saing industri, tetapi juga pada kemampuan Indonesia mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu menciptakan inovasi, mendorong produktivitas, serta membuka lapangan kerja yang berkelanjutan.
"Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh keberanian, gagasan, dan karakter manusianya. Dari kampus-kampus Indonesia harus lahir para pemimpin, inovator, dan entrepreneur yang mampu menciptakan peluang bagi jutaan orang. Inilah investasi jangka panjang yang harus kita bangun bersama," terang Shinta.
Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. menyampaikan apresiasi kepada APINDO atas inisiatif APINDO Goes to Campus yang dinilai menjadi jembatan strategis dalam memperkuat keterhubungan antara dunia usaha dan perguruan tinggi. Menurutnya, kolaborasi seperti ini perlu terus diperluas dan dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak perguruan tinggi di Indonesia terlibat dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Ia menekankan bahwa daya saing bangsa tidak hanya ditentukan oleh kapasitas industri dalam memproduksi barang dan jasa, tetapi juga oleh kemampuan menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang lahir dari sinergi erat antara dunia akademik, dunia usaha, dan pemerintah.
Lebih lanjut, Rektor Universitas Hasanuddin menegaskan kemitraan yang semakin erat antara kampus dan dunia usaha akan mempercepat lahirnya talenta yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus memperkuat fondasi ekonomi berbasis pengetahuan, sehingga Indonesia mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dalam acara tersebut, juga Anggota Komite Kerjasama Hubungan Daerah Bidang UMKM & Koperasi APINDO Edric Chandra memaparkan mengenai APINDO UMKM. Dalam paparannya, Edric menekankan pentingnya membentuk generasi yang tidak berhenti pada ide dan komentar, tetapi berani mengubah masalah menjadi solusi nyata. Menjadi builder berarti berani memulai, memahami kebutuhan nyata, belajar dari kegagalan, serta terus menguji dan menyempurnakan solusi. Lima kebiasaan utamanya adalah percaya pada kemungkinan, memahami masalah, memulai, belajar, dan terus menghasilkan—karena eksekusi nyata jauh lebih bernilai daripada gagasan besar tanpa tindakan.
Di tengah era AI, manusia tetap menjadi penentu arah, pengambil keputusan, dan pencipta nilai. Mahasiswa didorong untuk tidak menunggu lulus atau merasa sepenuhnya siap, tetapi mulai dari masalah kecil, menguji solusi, menerima umpan balik, dan terus belajar. Indonesia tidak membutuhkan generasi yang sekadar banyak berbicara, tetapi generasi yang berani membangun dan kampus adalah ruang terbaik untuk mulai mencoba, gagal, belajar, dan menciptakan perubahan.