APINDO Tegaskan Responsible Supply Chain sebagai Keniscayaan Strategis Dunia Usaha
Kamis, 12 Februari 2026
APINDO menegaskan responsible supply chain bukan lagi pilihan moral semata, melainkan keniscayaan strategis bagi keberlanjutan dan daya saing dunia usaha Indonesia. Di tengah dinamika perdagangan global yang semakin menuntut kepatuhan terhadap standar hak asasi manusia dan praktik ketenagakerjaan yang layak, dunia usaha tidak lagi dapat memisahkan pertumbuhan ekonomi dari tanggung jawab sosial.
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani dalam forum ILO National Symposium on Responsible Supply Chains for Decent Work in Indonesia, Kamis (12/2/2026) di Jakarta. Shinta menekankan paradigma bisnis telah mengalami pergeseran fundamental. Jika pada masa lalu perusahaan berorientasi pada maksimalisasi profit dan efisiensi biaya, kini tanggung jawab terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam rantai pasok menjadi bagian integral dari strategi korporasi. “Economic competitiveness and human rights are not opposites. They are deeply linked,” tegas Shinta.
Ia menambahkan bahwa praktik bisnis yang bertanggung jawab terbukti memiliki dasar ekonomi yang kuat. Perusahaan dengan standar kepatuhan tinggi mencatat pertumbuhan EBITDA 10–15 persen lebih besar serta biaya modal hingga 20 persen lebih rendah. Artinya, penerapan prinsip responsible business conduct (RBC) bukan beban tambahan, melainkan faktor pengungkit kinerja dan akses pembiayaan.
Dalam konteks global supply chain yang semakin ketat, standar perdagangan internasional kini mensyaratkan transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan hak pekerja di seluruh mata rantai produksi. Tanpa adaptasi terhadap standar tersebut, perusahaan berisiko kehilangan akses pasar dan reputasi.Karena itu, APINDO memandang penguatan responsible supply chain sebagai langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan ekspor, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Simposium ini dihadiri oleh ILO Country Director for Indonesia and Timor-Leste Simrin Singh, representatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Dida Gardera, perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan M. Arif Hidayat, Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Darwoto, Pengurus APINDO diantaranya Myra M. Hanartani, Lany Harijanti, serta para pemangku kepentingan tripartit dan mitra pembangunan lainnya.
Forum ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan pekerja dalam mendorong praktik rantai pasok yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi dengan ILO, termasuk dalam proyek Resilient, Inclusive, and Sustainable Supply Chains Asia (RISSC), APINDO terus mendorong implementasi RBC sebagai fondasi penguatan daya saing nasional. APINDO meyakini, investasi pada praktik bisnis yang bertanggung jawab akan memperkuat perusahaan, memberdayakan tenaga kerja, serta memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan dalam jangka panjang.