APINDO Dorong Pemimpin Perempuan Menuju Ekonomi Inklusif
Minggu, 22 Februari 2026
Tantangan terbesar kepemimpinan perempuan saat ini masih berada pada level sistemik, khususnya fenomena glass ceiling dan glass cliff. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani dalam diskusi panelis Saraswati Fellowship bertema “Empowering Indonesia’s Next Female Leaders”, Minggu (22/2/2026).
Hadir sebagai moderator Founder Saraswati Fellowship Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dan panelis lainnya yaitu Partner Boston Consulting Group (BCG) Ferry Malvinas dan Senior Director and Head of Government Relations & Public Policy APAC Moon Nguyet Phillips.
Shinta mengungkapkan, perempuan masih kerap menghadapi hambatan struktural dalam menapaki jenjang kepemimpinan, yang menjadikan akses ke posisi tertinggi menjadi lebih terbatas meskipun kompetensi mereka memadai (glass ceiling). Selain itu, dalam sejumlah kasus, kesempatan memimpin justru hadir ketika organisasi sedang berada dalam situasi sulit (glass cliff), sehingga tingkat tantangan, ekspektasi, dan sorotan publik yang dihadapi menjadi lebih besar dibandingkan kondisi saat stabil.
Shinta menambahkan, tantangan tersebut tidak berdiri sendiri. Selain hambatan sistemik, perempuan juga menghadapi tantangan budaya dan ekonomi. Stereotip kepemimpinan yang masih diasosiasikan dengan karakter maskulin membuat perempuan kerap dinilai secara berbeda. Dianggap terlalu lembut ketika kolaboratif dan dianggap terlalu agresif ketika tegas. Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap modal, jaringan profesional yang lebih sempit, serta dominasi perempuan di sektor bermargin rendah turut memperlambat akselerasi kepemimpinan perempuan di sektor strategis.
Namun demikian, dunia sedang mengalami perubahan besar. Transformasi digital membuka ruang baru bagi perempuan untuk membangun visibilitas, kredibilitas, dan jejaring lintas negara. Fleksibilitas kerja berbasis teknologi menciptakan sistem kerja yang lebih inklusif dan adaptif terhadap berbagai peran. Meski demikian, teknologi tidak bersifat netral. Tanpa literasi digital dan akses yang setara, kesenjangan justru dapat semakin melebar. Oleh karena itu, investasi pada keterampilan digital dan peningkatan peran perempuan sebagai pengambil keputusan menjadi kunci.
Shinta menegaskan, inklusivitas bukan sekadar isu sosial, melainkan strategi pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, UMKM menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDB nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Sekitar 64 persen UMKM dikelola atau dimiliki perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya bagian dari ekonomi, melainkan penggeraknya.
Untuk itu, berbagai langkah konkret telah dilakukan untuk memperkuat akses perempuan terhadap pelatihan digital, pendanaan, dan jaringan investasi global. Upaya ini diarahkan untuk mengatasi hambatan akses modal dan mempercepat transformasi digital pelaku usaha perempuan. Shinta berharap para lulusan Saraswati Fellowship dapat tumbuh menjadi pemimpin perempuan yang berani mengambil peran strategis dan menciptakan perubahan nyata.