APINDO Perkuat Ekosistem UMKM Yogyakarta melalui Kolaborasi Lintas Sektor
Selasa, 27 Oktober 2026
Yogyakarta, 6 Oktober 2026 – AsosiasiPengusaha Indonesia (APINDO) UMKM, Wismilak, APINDO Training Center (ATC), Pura Nusantara, DPP APINDO Yogyakarta, dan DPP APINDO Jawa Tengah memperkuat kolaborasi untuk mendorong pengembangan ekosistem UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Industrial Relations Conference (IR Conference) 2026 yang mempertemukan dunia usaha, jejaring APINDO, pemerintah, pelaku UMKM, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Mengusung semangat “srawung” (kearifan lokal jawa dalam bentuk kebersamaan, empati dan saling belajar) kegiatanyang berlangsung di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi dan apresiasi, tetapi juga menjadi titik awal untuk membuka pembicaraan mengenai peluang kolaborasi yang lebih konkretantara dunia usahadan ekosistem UMKM Yogyakarta. Dalam rangkaian IR Conference 2026 yang mengangkat tema “Bukan Lagi Sekadar Upah”, pembahasan diarahkan pada produktivitas, penguatan ekosistem usaha lokal, dan peluang UMKM untuk memasuki rantai nilai perusahaan.
Ronald Walla,Presiden Direktur Wismilaksekaligus Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO, menyampaikan bahwa penguatan UMKM perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas, tetapi juga pada keterhubungan dengan kebutuhan nyata dunia usaha. “Pengembangan UMKM tidak cukup berhenti pada pendampingan. Kita perlu membangun jembatan antarakesiapan pelaku UMKM dengan kebutuhandunia usaha, sehinggapeluang yang terbentuk dapat berkembang menjadi kemitraan yang nyata dan berkelanjutan.”
Dalam kolaborasi ini, masing-masing pihak membawa pengalaman dan peran yang saling melengkapi. APINDO UMKM menghadirkan pendekatan pendampingan melalui program AUM (APINDO UMKM Merdeka), sementara Wismilak membawa pengalaman pengembangan kewirausahaan melalui Diplomat Success Challenge (DSC) dan inisiatif Desa Wismilak. ATC berperan dalam pengembangan kapasitas dan jejaring, sedangkan Pura Nusantara turut merancang ruang pertemuan dengan pendekatan yang berakar pada nilai lokal Yogyakarta.
Kolaborasi ini juga membuka ruang untuk memperkenalkan framework pengembangan UMKM kepada dunia usaha. Salah satu inisiatif yang sedang diuji coba oleh APINDO UMKM adalah ApindoMart, yang dirancang sebagai jembatan antara UMKM yang telah mendapatkan pendampingan dengan kebutuhan pasar. Inisiatif tersebut masih berada dalam tahap beta terbatas dan diarahkan untuk mendukung terbentuknya hubungan usaha yang lebih terukur antara pelaku UMKM dan calon pembeli.
Dari sisi daerah, keterlibatan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY serta Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat perspektif lokal dalam pengembangan ekosistem UMKM. Kehadiran Gusti Kanjeng RatuMangkubumi sebagai Ketua Umum KADIN DIY juga menempatkan forum ini dalam konteks penghormatan terhadap nilai budaya dan kearifan lokal Yogyakarta.
Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Ketua Umum KADIN DIY, menyampaikan bahwa penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi yang mampu mempertemukan potensi lokal dengan jejaring dunia usaha secaraberkelanjutan. “Yogyakarta memilikipotensi UMKM yang kuat dan beragam. Karena itu, kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan para pelaku UMKM menjadi penting agar potensi tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.”
Perspektif pemerintah daerah turut hadir melalui sesi Panel Pentahelix UMKM yang menghadirkan Wawan Harmawan, S.E., M.M., Wakil Wali Kota Yogyakarta, dan Asri Saraswati Iskandar, Co-founder Agradaya, dengan moderator Edric Chandra, Initiator Program kewirausahaan Indonesia, Diplomat Success Challenge (DSC) dan Komite Partnership & Advokasi Bidang UMKM & Koperasi APINDO. Diskusi membahas sejumlah kebutuhan yang perlu diperkuat agar UMKM dapat mengakses kebutuhan dunia usaha, mulai dari mutu, kapasitas, hingga konsistensi pasokan serta bentuk kerja sama lintas pihak yang dapat mulai diuji.
Wawan Harmawan, S.E., M.M., Wakil Wali Kota Yogyakarta, menilai keterhubungan antara UMKM dan dunia usaha perlu dibangun melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak. “Pemerintah daerah memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan UMKM. Kolaborasi dengandunia usaha, komunitas, dan pihak lainnyapenting agar program pengembangan UMKM dapat semakin dekat dengan kebutuhan nyata di lapangan.”
Pendekatan tersebut menempatkan UMKM bukan semata sebagai penerima program, tetapi sebagai mitra kolaborasi yang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari rantai nilai dunia usaha. Karena itu, forum ini diarahkan untuk menghasilkan kesepahaman awal dan membuka tindak lanjut yang dapat dikembangkan setelah pelaksanaan IR Conference 2026.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, APINDO bersama para mitra mendorong agar proses pengembangan UMKM dapat bergerak dari pendampingan menuju akses pasar dan kemitraan yang lebih nyata. Harapannya, hubungan yang terbangun tidak berhenti pada pertemuan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberikan nilai bagi UMKM maupun dunia usaha.
Semangat tersebut tercermin dalam pendekatan “srawung”: membangun hubungan, memperkuat kepercayaan, dan membuka ruang bagi lahirnya kemitraan. Dari hubungan yang terbangun, diharapkan munculpeluang kolaborasi dan transaksi yang dapat berkembang secara berkelanjutan.