Umkm

Kembali ke Artikel dan Publikasi UMKM

APINDO: Mendorong Transformasi UMKM Hijau melalui Piloting T.U.M.B.U.H. BERDAMPAK di Provinsi Bali

APINDO: Mendorong Transformasi UMKM Hijau melalui Piloting T.U.M.B.U.H. BERDAMPAK di Provinsi Bali

Bali - 17 Sep 2026, Transformasi UMKM menuju praktik usaha yang lebih berkelanjutan menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat daya saing dan ketahanan usaha. Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian UMKM menyelenggarakan Piloting Transformasi UMKM Hijau T.U.M.B.U.H. BERDAMPAK di Provinsi Bali pada 17 September 2026 di The Trans Resort Bali.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung penyusunan dan implementasi Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) UMKM Hijau). Melalui kegiatan piloting, penerapan asesmen UMKM Hijau diuji secara langsung untuk memperoleh pembelajaran mengenai karakteristik, tingkat kesiapan, tantangan, serta kebutuhan pengembangan UMKM di berbagai sektor. Sekitar 1.000 UMKM di Provinsi Bali menjadi bagian penting dalam proses pengujian tersebut.

Pendekatan yang digunakan dalam piloting ini adalah UMKM Hijau T.U.M.B.U.H. BERDAMPAK. T.U.M.B.U.H. merupakan akronim dari Tumbuh, Unggul, Mandiri, Berkelanjutan, Ungkit, dan Hijau, yang menggambarkan kapasitas yang perlu dibangun dalam proses transformasi UMKM Hijau. Sementara itu, BERDAMPAK menggambarkan kualitas dan hasil yang diharapkan, yaitu Berdaya Saing, Efisien, Resilien, Dinamis, Adaptif, Maju, Profesional, Akuntabel, dan Kompetitif. Pendekatan ini menempatkan keberlanjutan tidak hanya pada aspek lingkungan, tetapi juga pada peningkatan kinerja usaha, tata kelola, ketahanan, dan daya saing.

Rangkaian piloting dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari asesmen, klasifikasi tingkat kematangan atau tier, identifikasi kesenjangan, hingga penyusunan improvement pathway. Hasil asesmen diharapkan dapat memberikan pemetaan tingkat kesiapan UMKM dalam menerapkan prinsip UMKM Hijau. Setiap tier kemudian memiliki rekomendasi dan jalur pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi, kapasitas, serta kebutuhan masing-masing UMKM.

 

Keterlibatan APINDO dalam kegiatan ini turut memperkuat perspektif dunia usaha dalam mendorong transformasi UMKM Hijau di Provinsi Bali. Fahmi Imam Fauzy, Bidang UMKM dan Koperasi DPN APINDO, hadir dalam kegiatan tersebut dengan menjelaskan dan mengajak seluruh UMKM yang hadir untuk mengakses platform assessment Profiler UMKM Hijau. Ini merupakan pemetaan awal bagi UMKM untuk mengetahui dimana letak usaha mereka dalam proses transisi menuju UMKM Hijau. 

Selain pemetaan dan asesmen, kegiatan juga memberikan perhatian pada penguatan kapasitas UMKM melalui pendampingan Sustainability Report (SR), eco-labeling, dan eco climate badge bagi UMKM terpilih. Pendampingan Sustainability Report diarahkan untuk membantu UMKM mengidentifikasi, mengukur, mendokumentasikan, dan mengomunikasikan kinerja keberlanjutan usahanya. Sementara itu, eco-labeling membantu UMKM memahami persyaratan pelabelan lingkungan yang relevan untuk mendukung kredibilitas produk dan akses pasar.

Khusus untuk Provinsi Bali, sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian penting karena merupakan anchor economy daerah. Oleh karena itu, UMKM sektor pariwisata juga didorong untuk meningkatkan daya saing melalui pendampingan sertifikasi eco climate badge, sebagai program verifikasi keberlanjutan bagi hotel, restoran, dan kafe yang memenuhi standar sosial dan lingkungan.

Kehadiran APINDO menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan UMKM yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu merespons peluang pasar hijau. Piloting ini juga menjadi ruang kolaborasi multipihak. Kegiatan melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, BAPPEDA Bali, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Konsorsium Ekonomi Hijau Bali (KEH Bali), Global Reporting Initiative (GRI), APINDO, Business and Export Development Organization (BEDO), Eco Tourism Bali, Universitas Hindu Indonesia, dan Candra Naya Lestari. Kolaborasi tersebut mempertemukan perspektif kebijakan, pemerintah daerah, dunia usaha, keberlanjutan dan pelaporan, pengembangan ekspor, ekowisata, akademik, hingga pengembangan sektor tekstil.

Melalui piloting ini, diharapkan tersusun hasil asesmen dan pemetaan UMKM, klasifikasi berdasarkan tingkat kesiapan, gap analysis, improvement pathway, serta rekomendasi untuk penyempurnaan dan implementasi NSPK UMKM Hijau. Pembelajaran dari Provinsi Bali juga diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan model transformasi UMKM Hijau yang dapat diterapkan dan direplikasi di daerah lainnya.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan UMKM, Piloting Transformasi UMKM Hijau T.U.M.B.U.H. BERDAMPAK menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga semakin berkelanjutan, berdaya saing, resilien, dan mampu memberikan dampak.

 

Copied.
arrow top icon