Apindo Batam Minta Pemerintah Hati-Hati Batasi Alfamart-Indomaret
Sabtu, 28 Februari 2026
Batam - Wacana pembatasan ekspansi minimarket berjaringan seperti Alfamart dan Indomaret demi memberi ruang bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menuai respons kritis dari kalangan pelaku usaha. Pemerintah diminta sangat berhati-hati sebelum mengeksekusi kebijakan tersebut.
Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid, mengingatkan bahwa ritel modern selama ini telah berkontribusi besar dalam menyerap tenaga kerja dan menekan angka pengangguran di berbagai daerah.
"Alfamart dan Indomaret bukan hanya soal bisnis ritel, tetapi juga berperan sebagai penyedia lapangan kerja yang signifikan. Jika ekspansi mereka dibatasi tanpa kajian matang, dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dari sisi ketenagakerjaan," ujar Rafki.
Ia menilai, jika pembatasan dilakukan semata demi memberi ruang bagi Kopdes Merah Putih, pemerintah harus terlebih dahulu memastikan kesiapan koperasi tersebut untuk bersaing secara sehat. Justru persaingan, kata Rafki, yang akan mendorong koperasi menjadi lebih efisien dan berkualitas.
"Dalam dunia usaha, kehadiran pesaing dari sektor swasta akan mendorong Kopdes Merah Putih menjadi lebih baik. Jika persaingan dihilangkan, insentif untuk berkinerja lebih baik juga ikut menghilang," jelasnya.
Rafki juga memperingatkan bahaya ketergantungan berlebihan terhadap fasilitas dan subsidi pemerintah. Organisasi bisnis yang terlalu banyak "disuapi" berpotensi berjalan lamban dan tidak adaptif terhadap kebutuhan pasar yang pada akhirnya merugikan masyarakat sebagai konsumen.
Alih-alih membatasi ritel modern, Rafki menyarankan pemerintah meniru praktik bisnis yang telah terbukti berhasil dijalankan Alfamart dan Indomaret, salah satunya dengan memangkas rantai pasok dan menghubungkan Kopdes Merah Putih langsung ke pabrik atau produsen utama.
"Dengan modal dan jaringan yang difasilitasi pemerintah, seharusnya Kopdes Merah Putih bisa langsung terkoneksi ke pabrik. Jika rantai pasok lebih pendek, harga jual bisa bersaing dengan minimarket modern," ujarnya.
Selain itu, Rafki menekankan pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan koperasi. Pengelola Kopdes Merah Putih harus direkrut dari kalangan profesional berpengalaman di bisnis ritel, bukan atas dasar kepentingan politik.
"Pengelola adalah kunci. Jika bisnis ritel dijalankan oleh orang yang tidak punya kompetensi, peluang gagal sangat besar. Profesionalisme harus menjadi fondasi utama," tegasnya.
Ia meminta pemerintah tidak terburu-buru mengeksekusi wacana pembatasan minimarket sebelum Kopdes Merah Putih benar-benar siap mengisi ceruk pasar yang ditinggalkan.
"Intinya, kebijakan ini perlu pertimbangan yang sangat matang. Jangan sampai niat memperkuat ekonomi desa justru berujung pada melemahnya pelayanan kepada masyarakat," pungkas Rafki.
Sumber: rri.co.id