Apindo NTT: SDM NTT Punya Potensi Besar, Job Fair Jadi Jalan Tingkatkan Skill
Jumat, 22 Mei 2026
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Nusa Tenggara Timur (NTT), Bobby Pitoby, mendukung penuh pelaksanaan Job Fair 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi.
PanduanKota & Daerah
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga kerja di daerah.
“Ini hal yang sangat positif yang diinisiasi oleh Disnakertrans Provinsi NTT. Seperti yang sudah disampaikan Pak Gubernur, ini merupakan job fair pertama yang diadakan di NTT,” ujar Bobby di sela kegiatan Job Fair 2026 di GOR Oepoi Kupang, Jumat (23/5).
Ia mengatakan hubungan antara pekerja dan pemberi kerja merupakan hubungan yang saling membutuhkan. Karena itu, job fair dinilai menjadi wadah penting untuk mempertemukan kedua pihak agar dapat membangun kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Pemberi kerja membutuhkan pekerja supaya dapat menghasilkan, sementara pekerja membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Jadi kita ini mitra yang saling membutuhkan satu dengan yang lain,” katanya.
Menurut Bobby, pelaksanaan job fair membuka ruang yang lebih luas bagi perusahaan dan pencari kerja untuk saling terhubung. Ia juga mengapresiasi rencana Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang ingin memperluas pelaksanaan job fair hingga ke seluruh kabupaten/kota di NTT.
“Jangan hanya di Kota Kupang saja, karena kebutuhan tenaga kerja ini ada di 22 kabupaten/kota. Dari sini kita akan berpindah ke daerah-daerah lain supaya pemberi kerja dan pekerja di sana juga bisa bertemu dan berkolaborasi,” ujarnya.
Ia menilai pelaksanaan job fair secara rutin, misalnya setiap tiga bulan sekali, akan mampu menjangkau seluruh wilayah NTT dalam beberapa tahun ke depan.
“Kalau tiga bulan sekali berarti setahun empat kali. Dalam waktu sekitar empat sampai lima tahun semua wilayah NTT bisa ter-cover. Ini sangat luar biasa,” katanya.
Bobby menyebut sejumlah daerah seperti Labuan Bajo, Maumere, Waingapu, dan Atambua memiliki potensi besar serta membutuhkan wadah yang dapat mempertemukan tenaga kerja dengan perusahaan.
Selain mendukung job fair, Bobby juga menyoroti minimnya Balai Latihan Kerja (BLK) di NTT. Menurutnya, peningkatan kualitas tenaga kerja sangat bergantung pada tersedianya lembaga pelatihan yang memadai.
“Sekarang di NTT ini BLK masih sangat minim, bahkan di beberapa kabupaten tidak ada. Bagaimana kita bisa menghasilkan pekerja berkualitas kalau tidak ada balai pelatihannya,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dalam menghadirkan pelatihan kerja yang mampu meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Kita butuh dorongan dari BLK agar pelatihan-pelatihan bisa berjalan dan meningkatkan SDM pekerja di NTT supaya mereka bisa naik kelas,” ujarnya.
Menurut Bobby, tenaga kerja asal NTT sebenarnya memiliki karakter yang baik dan disukai banyak perusahaan. Namun, keterampilan dan pengetahuan mereka masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Orang NTT itu sebenarnya luar biasa, rajin, setia, dan jujur. Tetapi skill dan pengetahuannya yang perlu ditingkatkan. Karena itu pelatihan sangat penting agar kualitas SDM mereka lebih baik,” pungkasnya.
Sumber: timexkupang.fajar.co.id