Kolaborasi Dunia Usaha untuk Mempercepat Pembukaan Lapangan Kerja
Rabu, 18 Maret 2026
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi Indonesia mesti sejalan dengan kemampuan negara dalam menciptakan lapangan kerja yang luas dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, dunia usaha memiliki peran strategis sebagai motor utama penciptaan pekerjaan. Hal ini menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi The Indonesian Forum (TIF) Seri 129 yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute (TII) dengan tema “Mempercepat Pembukaan Jutaan Lapangan Kerja di Indonesia”.
Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah yaitu Prof. Poppy Rufaidah, SE, MBA, Ph.D., Kemudian peneliti kebijakan publik oleh Putu Rusta Adijaya - Peneliti Bidang Ekonomi, The Indonesian Institute, dan perwakilan dunia usaha Dr. Arief Budiman - Wakil Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO. Dari perspektif dunia usaha, APINDO menekankan pentingnya membangun ekosistem usaha yang sehat, stabil, dan kondusif agar sektor swasta mampu terus berekspansi dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Dunia Usaha sebagai Penggerak Lapangan Kerja
Dalam diskusi tersebut, APINDO menegaskan bahwa para pengusaha pada dasarnya telah berkontribusi langsung terhadap penciptaan lapangan kerja. Perusahaan-perusahaan anggota APINDO merupakan entitas bisnis yang telah beroperasi dan mempekerjakan tenaga kerja di berbagai sektor industri. Oleh karena itu, upaya mempercepat penciptaan pekerjaan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga pada keberlanjutan dan pertumbuhan dunia usaha itu sendiri.
Menanggapi berbagai inisiatif pemerintah terkait program penyerapan tenaga kerja, APINDO menyampaikan sikap terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak.
“Sebagai pengusaha, kami tentu siap menjalin kolaborasi apabila program pemerintah tersebut dapat menciptakan aktivitas usaha yang nyata dan membuka lapangan kerja,” ujar Arief.
Namun demikian, APINDO juga menyoroti bahwa kontribusi dunia usaha terhadap penyerapan tenaga kerja sangat bergantung pada kondisi iklim usaha yang stabil.
“APINDO adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia. Perusahaan sudah berjalan dan memiliki tenaga kerja. Karena itu yang paling penting adalah menjaga iklim usaha agar tetap kondusif sehingga usaha bisa berjalan dengan pasti,” jelasnya.
Tantangan Kualitas Tenaga Kerja dan UMKM
Selain iklim usaha, tantangan lain yang disoroti adalah kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja. Dunia usaha masih menghadapi kesulitan dalam mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Bagi perusahaan, mencari pegawai yang sesuai itu tidak mudah karena sering terjadi mismatch antara kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha,” ungkap Arief Budiman.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan, pelatihan vokasi, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja perlu terus diperkuat agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Diskusi juga menyoroti peran penting Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menciptakan lapangan kerja. Meski jumlahnya sangat besar, UMKM masih menghadapi tantangan untuk masuk dalam rantai pasok industri yang lebih besar.
Dalam sesi diskusi, pemerintah melalui Kantor Staf Presiden juga menekankan pentingnya penguatan peran UMKM dan Koperasi dalam penciptaan lapangan kerja.
“Koperasi desa idealnya tidak hanya menjadi lembaga, tetapi juga menjalankan usaha yang berdampak langsung bagi masyarakat. Idealnya satu koperasi desa dapat menciptakan sekitar 20 lapangan pekerjaan,” ujar perwakilan Kantor Staf Presiden dalam diskusi tersebut.
Namun demikian, berbagai tantangan implementasi masih perlu diperhatikan, seperti ketersediaan lahan, pengelolaan koperasi, serta pengembangan model usaha yang berkelanjutan.
Kolaborasi sebagai Kunci
Diskusi dalam forum ini menegaskan bahwa percepatan pembukaan lapangan kerja membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. APINDO menilai bahwa dunia usaha siap berkontribusi dalam menciptakan lebih banyak peluang kerja, selama didukung oleh kebijakan yang stabil, kepastian usaha, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Kunci keberlanjutan adalah iklim usaha yang baik. Jika stabilitas terjaga, dunia usaha akan terus berkembang dan secara otomatis membuka lebih banyak lapangan pekerjaan,” tutup Arief.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta, percepatan pembukaan lapangan kerja diharapkan tidak hanya menjadi target jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi penting menuju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif dan berkelanjutan.