Ketua Umum APINDO Inspirasi Kepemimpinan Perempuan bagi para Mentees Berbagai Perguruan Tinggi
Wednesday, 04 March 2026
Menjadi pemimpin perempuan merupakan tanggung jawab untuk menjadi manfaat dan menghadirkan dampak bagi masyarakat. Kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kompetensi, integritas, dan konsistensi dalam menghasilkan nilai. Namun, perempuan membawa kekuatan tersendiri melalui empati, ketahanan, kemampuan mengelola berbagai peran.
Ketua Umum APINDO, Shinta W. Kamdani mengungkapkan dalam "Speed Mentoring in Celebration of International Women's Day 2026" yang diselenggarakan Kedutaan besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste, Rabu (4/3/2026) di Jakarta. Dalam acara tersebut, Shinta hadir sebagai mentor bagi sejumlah mentees dari beragam perguruan tinggi. Hadir dalam acara tersebut Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste H.E. Jess Dutton, dan sejumlah mentor diantaranya Duta Besar Kanada untuk ASEAN Ambra Dickie.
Jess Dutton menekankan pentingnya perempuan muda memiliki kesempatan bertemu dan berdialog langsung dengan perempuan yang telah sukses di bidangnya. Menurutnya, interaksi semacam ini memberi ruang bagi perempuan muda untuk belajar dari pengalaman nyata, mengajukan pertanyaan, serta memahami perjalanan karier para mentor tersebut.
Ia menegaskan bahwa yang perlu dipelajari bukan hanya keberhasilan para tokoh tersebut, tetapi juga tantangan yang mereka hadapi dan cara mengatasinya. Kehadiran panutan dinilai penting sebagai sumber inspirasi sekaligus pembelajaran bersama untuk mendorong kemajuan kesetaraan gender.
Dutton juga menegaskan bahwa kemajuan kesetaraan gender merupakan prioritas kerja sama internasional Kanada di Indonesia. Kanada menjalankan berbagai program yang mencakup kesehatan dan hak reproduksi seksual, pencegahan pernikahan anak dan mutilasi genital perempuan, penanggulangan kekerasan berbasis gender, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta pemberdayaan ekonomi dan penguatan suara perempuan di tingkat komunitas agar mereka lebih memahami dan memperjuangkan hak-haknya.
Kepada para mentees, Shinta menceritakan perjalanan hidup dan karir dalam menghadapi keraguan terhadap kapasitasnya sebagai perempuan. Shinta membuktikan dengan kualitas kerja, persiapan matang, dan hasil nyata. Saat dipercaya memimpin sebagai CEO di usia muda dengan tim yang lebih senior dan didominasi laki-laki, ia mampu menyeimbangkan ketegasan dan empati, membangun kepercayaan melalui kinerja, serta membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan dapat menyatukan perspektif dan menciptakan pertumbuhan bersama.
Fokus pengabdiannya adalah kontribusi jangka panjang yang berdampak luas. Melalui berbagai peran nasional dan global, ia menjembatani dunia usaha, pemerintah, dan komunitas internasional agar kebijakan serta investasi berkelanjutan benar-benar menjadi manfaat bagi Indonesia, termasuk dalam penguatan ekonomi hijau dan biru. Baginya, kepemimpinan bukan tentang berdiri sendiri, melainkan tentang menguatkan orang lain dan membuka ruang bagi perempuan serta generasi muda untuk turut bertumbuh.
Di tengah tanggung jawab profesional, ia tetap menjaga perannya sebagai perempuan, istri, dan ibu dengan disiplin prioritas dan komitmen. Keseimbangan hidup dijalani sebagai praktik nyata, bukan sekadar wacana. Pada akhirnya, kepemimpinan perempuan ditunjukkan melalui keteladanan, keberanian melangkah, serta komitmen untuk terus menjadi manfaat dan menghadirkan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.