Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Kurs Jual Beli
 
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa

Latar Belakang

Pada forum Europe-Indonesia Business Dialog (EIBD) Desember 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Komisi Eropa José Manuel Barroso mendiskusikan cara meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Uni Eropa. Kedua pemimpin negara memutuskan untuk mendirikan suatu “Kelompok Visi Bersama” guna mengkaji upaya peningkatan perdagangan dan investasi antara kedua mitra. Kelompok ini beranggotakan orang-orang terkemuka dari kedua mitra, terdiri dari para pemimpin politik di bidang perdagangan, pejabat, pelaku bisnis, dan akademisi. 

Selama enam bulan, kelompok visi bersama menganalisis hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa. Meski sedang dilanda permasalahan ekonomi, Uni Eropa masih merupakan pasar terbesar di dunia dan menyumbang 20 persen dari PDB global. Uni Eropa tercatat sebagai mitra dagang terbesar ketiga Indonesia pada tahun 2011, dengan nilai perdagangan mencapai lebih dari US$ 30 miliar. Indonesia sendiri mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 8 miliar per tahun. Dalam bidang investasi, Uni Eropa adalah sumber investasi terbesar kedua bagi Indonesia, meskipun faktanya Indonesia baru menerima 1,6 persen dari total investasi Uni Eropa ke Asia.

Melalui kajian yang komprehensif, kelompok visi bersama menemukan bahwa meski berjalan relatif sehat, hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa mengalami status quo. Keadaan status quo ini menyebabkan kinerja yang rendah serta hilangnya berbagai peluang untuk kedua mitra dilihat dari perspektif jangka panjang. Berdasarkan temuan ini, kelompok visi bersama merekomendasikan CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) sebagai instrumen untuk merevitalisasi hubungan ekonomi ini.


Arsitektur Segitiga

Tidak seperti ASEAN China Free Trade Agreement (CAFTA) yang dinilai merugikan Indonesia karena lebih berfokus pada akses pasar, CEPA dirancang agar menguntungkan bagi kedua mitra. Berbeda dengan CAFTA, CEPA ditopang oleh arsitektur segitiga berupa akses pasar, pengembangan kapasitas, dan fasilitasi perdagangan dan investasi untuk menjamin kepentingan Indonesia. Dalam pengembangan kapasitas, dialog-dialog aktif antara pemerintah dan dunia usaha akan terus dijalin untuk mendiskusikan peluang dan hambatan dalam CEPA. Kerja sama teknis juga akan dilakukan untuk menemukan solusi teknis atas masalah-masalah yang ditemui. Selain itu, ada juga kerja sama keuangan untuk melaksanakan solusi teknis guna memperlancar hubungan perdagangan dan investasi Indonesia dan Uni Eropa. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

  • Dalam kaitannya dengan akses pasar akan dirumuskan FTA yang lebih mendalam. Hal ini dapat berarti liberalisasi akses terhadap barang, jasa, dan investasi langsung, yang didukung dengan komitmen ‘di belakang-garis-perbatasan’ dalam rangkaian isu peraturan sanitasi dan teknis berdasarkan persyaratan atau standar yang diterima secara internasional bilamana memungkinkan. Hal tersebut juga harus mencakup komitmen dalam perlindungan hak kekayaan intelektual dan kebijakan persaingan, dengan memperhatikan fakta bahwa Indonesia, sebagai salah satu dari hanya beberapa negara ASEAN, telah memulai penerapan kebijakan serupa. Hal ini perlu dipandang dalam kaitannya dengan pengembangan kapasitas.

  • Untuk pasar produk, Kelompok Visi merekomendasikan penerapan tarif nol bagi 95% jajaran tarif dari sekurangnya 95% nilai perdagangan yang termasuk dalam jangka waktu maksimum 9 tahun. Alur waktu harus sepenuhnya mencerminkan tingkat pembangunan yang berbeda: Uni Eropa akan memiliki komitmen awal yang lebih tinggi dan masa pelepasan yang lebih cepat. Klausul upaya-terbaik pada 5% sisanya akan membuka kesempatan bagi perkembangan selanjutnya di masa depan. Perlindungan dan/atau ketentuan tentang sektor-sektor sensitif dapat diikutsertakan. Pada saat yang sama, kredibilitas dan ambisi akan terpengaruh secara negatif jika ketentuan dan penerapannya tidak benar-benar baik dan sesuai dengan kriteria objektif.

  • Demi tercapainya tujuan CEPA, pengembangan kapasitas didefinisikan mencakup tiga level interaktif: (i) dialog permanen, baik antara bisnis dengan bisnis maupun antara bisnis dan pemerintah, (ii) dialog dan komitmen teknis, diilustrasikan oleh contoh-contoh yang telah terbukti dalam bidang perkayuan, perikanan dan penerbangan sipil; dan (iii) kerja sama finansial untuk mendukung hasil nyata dari komite teknis. Dibawah CEPA, pengembangan kapasitas harus melampaui upaya yang telah ada secara memadai dalam berbagai sektor. Dalam kaitannya dengan pengembangan kapasitas, untuk menjaga efektivitasnya, hal ini tidak boleh hanya berorientasi pada hasil-produk [yang berarti dilaksanakannya upaya-upaya yang telah disepakati], tetapi berorientasi outcome atau hasil-proses [yaitu hasil yang memiliki kapasitas untuk memenuhi, misalnya, persyaratan kesehatan, keselamatan dan lingkungan Uni Eropa yang sedang ditingkatkan menjadi ekspor guna menjangkau pasar Uni Eropa]. Oleh karena itu pengembangan kapasitas harus terukur, dan secara cermat ditargetkan pada sektor yang bersangkutan, baik untuk pertanyaanSPS maupun TBT dan dipantau secara teratur dalamdialog Indonesia - Uni Eropa.

  • Akses pasar harus mencakup kesempatan yang luas bagi investasi secara lokal. Bagi Indonesia, bisnis UE dapat menanamkan modal di segmen tertentu dari rantai nilai, untuk mengekspor kembali ke Eropa. Bahkan kesempatan saling menguntungkan (win-win) yang lebih besar adalah dengan mengembangkan akses pasar bagi investasi langsung UE, dengan memanfaatkan Indonesia sebagai platform produksi untuk penjualan di seluruh Komunitas Ekonomi ASEAN. Mengingat munculnya FTA lainnya terhadap UE di wilayah ini, dan mengingat adanya kondisi kompetitif, akses pasar yang lebih besar akan menjadi sinyal yang jelas bagi investor UE untuk menjajaki rencana yang saling menguntungkan tersebut di Indonesia. Tingkat FDI UE di Indonesia saat ini masih relatif rendah. CEPA akan mencakup langkahlangkah dan insentif untuk meningkatkan ketertarikan FDI UE terhadap Indonesia yang pada akhirnya akan meningkatkan arus FDI UE ke Indonesia. Didorong oleh prospek CEPA, diharapkan akan terjadi liberalisasi terhadap pembatasan kepemilikan asing (pembatasan ekuitas), akses bisnis asing dan persyaratan konten lokal – termasuk pengadaan publik – yang pada gilirannya dapat mendorong peningkatan FDI. Hal ini dapat dilihat sebagai perbaikan insentif investasi langsung oleh bisnis Eropa yang belakangan ini sering menahan diri untuk berinvestasi mengingat pembatasan ekuitas yang terlalu ketat. Akses pasar untuk investasi langsung (disebut pra-pembentukan di UE) dapat dilengkapi secara bermanfaat oleh perlindungan investasi (pascapembentukan). Saat ini, Indonesia telah menyepakati Perjanjian Investasi Bilateral (BIT) dengan 17 negara UE. Dengan adanya Perjanjian Lisbon UE dengan kekuatan investasi baru, UE dan Indonesia seharusnya berusha menyepakati, dalam jangka menengah, suatu BIT tunggal yang dapat mempromosikan kepastian hukum bagi investor UE dan Indonesia.

Secara riil CEPA diharapkan akan mendorong perdagangan Indonesia dengan menciptakan ekspor tambahan sebesar US$ 9 miliar, terutama untuk industri ringan dan perlengkapan transportasi. CEPA juga akan mendorong perekonomian Indonesia dengan menciptakan PDB tambahan sebesar US$ 6,3 miliar. Dari sisi penyerapan tenaga kerja, sekarang setidaknya ada satu juta orang Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan Uni Eropa dan masih akan bertambah dengan adanya CEPA. Melalui investasi, Uni Eropa juga akan melakukan transfer teknologi kepada Indonesia. 


Inisiatif APINDO

Mengingat nilai strategis CEPA, APINDO berperan aktif mensosialisasikan CEPA kepada para pelaku usaha di Indonesia. Sosialisasi juga dimaksudkan sebagai ajang untuk mengidentifikasi tantangan, peluang, serta rekomendasi konkret berbagai sektor usaha di Indonesia terkait dengan negosiasi CEPA. Rekomendasi ini akan disampaikan melalui DPN APINDO kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam negosiasi CEPA dengan Uni-Eropa yang rencananya dimulai pada November 2012 mendatang. Dengan memerhatikan masukan dari pelaku usaha,CEPA yang disepakati kelak diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan dunia usaha Indonesia. Dengan demikian, berbagai kekhawatiran yang dirasakan dalam implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan Cina (CAFTA) tidak akan terulang dalam CEPA. 

Kegiatan sosialisasi ini merupakan bagian dari kerja sama antara DPN APINDO dan Uni Eropa di bawah program “Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment” (ACTIVE). Program ACTIVE mendukung penguatan kapasitas organisasi masyarakat sipil dalam bidang advokasi kebijakan, penelitian dan penyebarluasan informasi, serta peningkatan pelayanan kepada para anggotanya. Program ini juga bertujuan untuk menguatkan peran organisasi masyarakat sipil dalam meningkatkan kesiapan Indonesia dalam negosiasi CEPA serta meningkatkan pemahaman dunia usaha Indonesia tentang CEPA dalam strategi integrasi global. Informasi lebih lanjut mengenai program ACTIVE dapat diperoleh di:

http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/funding_opportunities/grants/index_en.htm

 
search canakkale vergi mevzuati bagimsiz denetim kanunlar web security engelliler teknoloji sgk bagimsiz denetim bagimsiz denetim sorgulama internet security mevzuat vergi ve sgk mevzuati