ITIS 2019, FORUM DISKUSI PELAKU USAHA, PEMERINTAH, & PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK TINGKATKAN INVESTASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Dinamika sektor perdagangan, terutama perdagangan ekspor dan investasi memiliki pengaruh signifikan terhadap performa ekonomi nasional. Sementara untuk angka pengangguran, dalam rentang 2015 - 2018 berhasil ditekan dan karenanya pemerintah berhasil menciptakan 9,38 juta lapangan kerja baru. Tingkat inflasi berada di kisaran 3 persen yang menjaga daya beli masyarakat dan memberi ruang bagi dunia usaha. Angka kemiskinan sudah berada pada level satu digit 9,66 persen dari total penduduk Indonesia pada tahun 2018.

Indonesia juga relatif berhasil dalam memperbesar cadangan devisanya. Tertinggi tercatat 130,20 miliar dollar AS pada Desember 2017. Kelas menengah Indonesia tumbuh pesat, The Boston Consulting memperkirakan akan mencapai 141 juta orang pada tahun 2020.

Potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih cepat juga dapat didorong dari PDB nya yang telah melampaui 1 triliun dollar AS. Bukti-bukti empirik menunjukkan, tingkat PDB 1 triliun dollar AS akan mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Namun demikian, dengan segala pencapaian indikator makro ekonomi yang tergolong baik dalam ukuran dunia, Indonesia masih berkutat pada sejumlah masalah mendasar yang membuat tidak bisa berlari lebih cepat.

Oleh karenanya, APINDO sebagai organisasi pengusaha bersama International Strategic Partnership Center (ISPC) Indonesia menginisiasi penyelenggaraan Indonesia Trade and Investment Summit (ITIS) 2019, Selasa (15/10) di Jakarta. ITIS 2019 mengambil tema "Arah baru perdagangan dan investasi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi" untuk mengingatkan bahwa reformasi kebijakan yang tepat akan menghadirkan optimisme.

Ketua Umum APINDO, Hariyadi B. Sukamdani mengungkapkan, APINDO menyakini bahwa perbaikan kebijakan di bidang perdagangan dan investasi akan berimplikasi signifikan pada performa ekonomi nasional. "Untuk itu, saya ingin mengajak forum ITIS 2019 ini untuk mendiskusikan beberapa hal. Dalam jangka pendek, Indonesia perlu melakukan langkah - langkah, diantaranya menggenjot masuknya investasi asing untuk dua tujuan, yaitu: menekan defisit dan memperbaiki struktur industri manufaktur nasional khususnya industri kecil dan menengah dengan teknologi yang tidak terlalu kompleks dan modal yang tidak terlalu besar. Selain itu, Indonesia perlu mendorong terjadinya peningkatan ekspor produk bahan olahan, bahan baku non ekstraktif, dan juga membenahi dan menekan impor sektor jasa serta mencoba menjadikannya sebagai andalan ekspor," urai Hariyadi.

Senada dengan Hariyadi, Managing Partner ISPC Indonesia, Mira Maulida mengungkapkan ITIS 2019 diselenggarakan pada momentum yang tepat, menjelang dimulainya pemerintahan baru periode 2019 - 2024 sehingga dapat membangun optimisme baru untuk pemerintahan baru.

Ia memaparkan, ITIS 2019 dijadwalkan membahas upaya pengembangan keunggulan daya saing investasi Indonesia, merumuskan pembuatan kebijakan oleh regulator (lintas Kementerian, Lembaga Negara dan Pemerintah Daerah) sehubungan dengan akselerasi peningkatan perdagangan dan investasi, dialog upaya peningkatan tingkat kepercayaan internasional kepada Indonesia sebagai negara tujuan investasi, dan mendiskusikan paket kebijakan, insentif dan skema fasilitas dalam mendorong tumbuhnya ekspor jasa.

Menurut Mira, ITIS 2019 diharapkan mampu meningkatkan kerjasama dan komunikasi antar pemangku kepentingan dalam perekonomian Indonesia. Selain itu, itu kegiatan ini akan menjadi ajang dalam penyampaian rekomendasi konstruktif untuk memperbaiki iklim usaha, menghasilkan blue print workable serta meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memproduksi barang ekspor dengan nilai tambah tinggi. "ITIS 2019 juga menjadi forum untuk memetakan strategi peningkatan produksi barang dan jasa, termasuk mempromosikan kemitraan strategis dan peluang bisnis di Indonesia," paparnya.

Forum ITIS 2019 ini dihadiri oleh para pelaku usaha dari dalam negeri dan luar negeri, perwakilan negara asing, foreign trade chambers, kementerian dan Lembaga setara kementerian terkait, serta dari BUMN.  "ITIS 2019 juga menjadi forum yang mendukungTrade Expo Indonesia (TEI) 2019 sehingga mampu menjadi ajang transaksi perdagangan dan investasi luar negeri," terang Mira.

Bersamaan dengan kegiatan ITIS 2019, APINDO juga menyerahkan sejumlah Dokumen sebagai bentuk kontribusi gagasan yang telah disusun dan bahan masukan diskusi bersama Pemerintah. Dokumen tersebut adalah:

1.    Dokumen National Platform of Trade and Investment 2019-2024

2.    Dokumen Pembentukan Komite Promosi Luar Negeri Pengembangan Industri Menengah Indonesia

3.    Dokumen Pembentukan Asosiasi Eksportir Jasa Indonesia






Rabu, 16 Oktober 2019 |