Courtesy Call The International Friendship Exchange Council (FEC) - APINDO bahas sektor potensial Indonesia – Jepang

The International Friendship Exchange Council (FEC) mengadakan Courtesy Call ke APINDO pada Senin (16/3/2015). Rombongan delegasi dipimpin oleh Vice Chairman of FEC yang juga Chairman of the Board of Ajinomoto Co., Inc, Norio Yamaguchi dan diterima oleh Ketua Umum APINDO, Hariyadi B. Sukamdani beserta jajaran Pengurus DPN APINDO.

Yamaguchi mengungkapkan, kedatangan rombongan delegasi bertujuan untuk mendengarkan pandangan dari dunia usaha terkait kondisi Indonesia saat ini, terutama dengan adanya Kepala Negara baru. Rombongan bertukar pikiran mengenai beberapa isu, termasuk diantaranya strategi pemerintahan baru dan bagaimana dunia usaha merespon hal tersebut.

Terkait dengan strategi yang dilakukan pemerintahan yang baru, Hariyadi menjelaskan Pemerintah baru saat ini memiliki program untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. "Jadi saat ini Pemerintah sedang membuat program untuk membangun 35.000 megawatt listrik. Pemerintah juga sedang membangun konektivitas perhubungan laut sehingga kami mendorong berkembangnya galangan kapal dan perbaikan pelabuhan - pelabuhan," paparnya.

Ia menambahkan, pemerintaah saat ini berkonsentrasi untuk memperbaiki saluran irigasi dan membuat bendungan atau dam yang baru. Pemerintah kami juga dorong peningkatan ketahanan energi dengan mendorong eksplorasi minyak dan gas bumi, panas bumi dan pemanfaatan batubara secara efisien," tutur Hariyadi.

Terkait dengan sektor pariwisata, Hariyadi mengungkapkan Indonesia memiliki prospek besar dari sektor pariwisata. Pemerintah menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan, yaitu dengan target untuk capai 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019 dari yang saat ini hanya 9,8 juta. Selain itu, juga perjalanan dari wisatawan nusantara/turis domestik dari 250 juta wisatawan  menjadi 275 juta orang.

Ia menerangkan jika kelas menengah Indonesia saat ini mulai banyak yang bepergian ke Jepang. Meskipun pembebasan visa belum efektif berjalan, tapi semakin banyak orang Indonesia tertarik ke Jepang. Semakin banyak anak muda Indonesia yang belajar bahasa Jepang sehingga Jepang di Indonesia semakin populer untuk hubungan kebudayaan. Hal ini bisa dilihat sebagai potensi baik untuk pengembangan pariwisata di kedua negara.

Hariyadi mengatakan saat ini potensi yang sangat besar, selain di bidang infrastruktur, adalah pengembangan kerjasama di bidang UKM.

Pemerintahan yang baru melakukan dorongan terhadap perkembangan sektor maritim mulai dari Industri penangkapan ikan dengan turunannya sampai pengolahan ikan dan juga terkait pemanfaatan meningkatkan konektivitas hubungan antar pulau. "Pengembangan akan diarahkan juga ke Indonesia bagian Timur. Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 250 juta orang dan pendapatan perkapita akan selalu naik dan masih akan sangat berpotensi berkembang seiring meningkatnya jumlah kelas menengah," terang Hariyadi.

Senada dengan Hariyadi, Yamaguchi juga mengungkapkan sektor pariwisata memberikan prospek besar bagi Jepang dan Indonesia. "Di Jepang, industri perhotelan maupun di resroran semakin sadar pada sertifikat halal. Penetrasi sertifikat halal semakin besar di Jepang. Kami bisa mengedepankan kebudayaan dari segi makanan. Oleh karena itu pariwisata kedua negara memiliki potensi besar," ungkapnya.

Courtesy Call ini juga membahas koridor laut yang menjadi salah satu sektor yang dikembangkan pemerintahan baru. Hariyadi mengatakan koridor laut atau Poros Maritim mampu dijadikan suatu kesatuan yang terintegrasi, flow dari konektivitas untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia sangat baik. "Di wilayah (Indonesia-red) Timur, potensi sedemikian besar. Tapi karena belum dirancang konektivitas yang terintegrasi, sehingga pembangunan di sana relatif menjadi tertinggal. Misalnya Papua, potensi sangat luar biasa mulai dari minyak gas, perkebunan, kehutanan, pertambangan. Namun daerahnya masih sangat terbatas akses daratnya. Sehingga konektivitas poros maritim sangat penting untuk Indonesia, urainya.

Sementara itu, Ketua APINDO bidang Perhubungan dan ESDM, Soebronto Laras mengungkapkan jelang MEA, negara- negara ASEAN menjadi single production base, single market, dan free flow of skilled workers. "Demografi indonesia akan sangat menguntungkan. Sekitar 60% adalah 15-35 tahun jadi negara dengan rakyat produktif dan ini akan menjadi sebuah kesempatan," terang Soebronto. Ia juga mengatakan pendapatan perkapita Indonesia saat ini 3,700 USD. Misi pemerintahan Jokowi, pada dua tahun terakhir masa jabatannya akan naik ke 7% jadi income perkapita akan bertumbuh ke 5.000 USD.

Pada sektor Industri, Soebronto memaparkan masalah terbesar yang dihadapi pada sektor ini adalah adanya biaya yang tidak efisien. "Problem terbesar disebabkan oleh logistik. Logistik menjadi cost penalty yang tidak sehat bagi industri. Sehingga Infrastruktur menjadi keharusan yang harus dipersiapkan saat ini," ujarnya.






Senin, 16 Maret 2015 |