Waspada Terseret Perlambatan Ekonomi China



ANALISIS

WaspadaTerseret Perlambatan Ekonomi China

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 15:56 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir turut bertumpu pada perekonomian China. Tak heran, mengingat China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan letak geografisnya cukup dekat dengan Indonesia.

Hubungan ekonomi Indonesia-China pun tak hanya sebatas perdagangan lintas negara. Investasi China di Indonesia juga kian melesat dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China adalah negara tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Tahun lalu, totalnya mencapai US$24,39 miliar. Di samping itu, impor Indonesia paling besar juga berasal dari China yang mencapai US$45,24 miliar.

Sementara berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi China di Indonesia menempati peringkat ketiga terbesar, di bawah Singapura dan Jepang, Pada Januari-September 2018, total investasi China di Indonesia mencapai US$1,8 miliar.

Karenanya, perlambatan ekonomi China dikhawatirkan akan berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional (NBS) China, ekonomi Negeri Tirai Bambu hanya tumbuh 6,4 persen pada kuartal keempat tahun lalu. Padahal, pada kuartal ketiga setidaknya China masih mampu mempertahankan laju ekonomi di kisaran 6,5 persen. Walhasil, secara keseluruhan tahun, ekonomi China hanya tumbuh 6,6 persen, terburuk dalam 28 tahun terakhir.

Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) menjadi biang keladi lesunya ekonomi China. Tembok ekonomi China perlahan-lahan jebol usai menerima gempuran tarif bea masuk impor dari Presiden AS Donald Trump sejak awal tahun lalu.

Pada kuartal pertama tahun lalu, ekonomi China masih di kisaran 6,8 persen. Kemudian melorot ke 6,7 persen pada kuartal kedua, dan terus berlanjut hingga akhirnya berlabuh ke 6,4 persen pada akhir tahun.

"Dengan perang dagang yang masih belum jelas ke depan, maka pelemahan ekonomi China bisa berlanjut. Ini kemudian berpengaruh terhadap aktivitas perdagangan internasional, termasuk Indonesia," ucap Myrdal kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/1).

Belum lagi menurut dia, kondisi harga komoditas di pasar dunia tengah kurang bergairah. Hal ini membuat kinerja perdagangan antarnegara, termasuk Indonesia dengan China bisa ikut melorot.

Tak ketinggalan ada pula faktor pelemahan nilai tukar rupiah yang ikut memberi pengaruh. Sebab, mayoritas hubungan perdagangan dengan China menggunakan mata uang dolar AS dan mata uang kedua negara terdepresiasi dari mata uang Negeri Paman Sam itu.

Ia menilai dampak lesunya ekonomi China sebenarnya sudah mulai terasa ke Indonesia sejak tahun lalu. Salah satunya terlihat dari defisit perdagangan Indonesia dengan China yang kian melebar. Tahun lalu, defisit perdagangan Indonesia tercatat US$20,85 miliar, naik dari 2017 sebesar US$14,16 miliar.

Ekspor Indonesia ke China tahun lalu hanya tumbuh 14,25 persen menjadi US$24,39 miliar. Selama ini, ekspor Indonesia ke China didominasi oleh barang komoditas yang merupakan bahan baku industri. Sementara itu, sektor manufaktur China tahun lalu juga mengalami tekanan.

Sementara itu, impor China ke Indonesia mencapai US$45,24 miliar, melonjak 27,41 persen di banding tahun sebelumnya. Saat ini, impor Indonesia dari China tak hanya dalam bentuk bahan baku dan penolong, tetapi juga barang konsumsi.

Tak ketinggalan, peningkatan impor dari China juga terjadi pada barang jadi yang diperjualbelikan di situs perdagangan elektronik (e-commerce) di Tanah Air. "Ini salah satu penyumbang impor, meski tidak dominan," ujarnya.

Hal ini setidaknya juga terkonfirmasi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Menurutnya, tingginya permintaan (demand) belanja e-commerce di Tanah Air membuat penyedia barang lebih memilih mengambil produk-produk dari China.

Hal ini tak lain dan tak bukan karena variasi produk yang ditawarkan China sangat beragam, namun harganya terjangkau. "Sekarang lihat saja, isi e-commerce mayoritas barang dari China. Ini berat, karena dia punya semua dan permintaan masyarakat Indonesia terhadap e-commerce lagi meningkat," ungkapnya.

Prospek ke Depan

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai prospek ekonomi global maupun Indonesia ke depan tetap akan bergantung pada perkembangan ekonomi China. Ekonomi Negeri Tirai Bambu sendiri diperkirakan akan tetap melemah dalam jangka pendek, namun sifatnya sementara karena China diyakini bisa kembali menggairahkan ekonominya.

Menurutnya, ekonomi China dalam jangka pendek tetap melemah karena belum ada kepastian dari kelanjutan negosiasi perang dagang dengan AS. Namun, untuk jangka menengah, sekalipun negosiasi dengan AS tidak mendapat titik temu, China diperkirakan tetap bisa mencari celah untuk mendapatkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru dari negara-negara lain.

"China akan segera mencari pasar baru untuk menjadi subtitusi ekspornya ketika dia tidak bisa memasuki pasar AS. Negara-negara yang prospektif untuk sumber perdagangan China, seperti Asia Tenggara dan Amerika Latin," katanya.

Sementara bagi Indonesia, prospek ekonomi ke depan sebenarnya masih akan terpengaruh oleh kinerja ekonomi China. Namun, pertumbuhan juga bergantung pada seberapa mampu Indonesia mencari peluang dari berbagai skenario ke depan.

Skenario pertama, ketika perekonomian China masih lemah, Heri melihat, kinerja perdagangan Indonesia bakal ikut-ikut kurang gairah. Sebab, kemampuan ekspor Indonesia pada tahun ini masih sama seperti tahun lalu, yaitu bergantung pada komoditas bahan mentah. Apalagi, harga komoditas di pasar internasional belum pulih.

Namun, menurut dia, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh mengingat kontribusi pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari konsumsi rumah tangga.

Skenario kedua, ketika ekonomi China mulai bergerak, Indonesia juga memiliki peluang untuk meningkatkan kinerja perdagangan. Sebab, roda industri China sedikit banyak juga membutuhkan bahan baku dari Indonesia. "Tapi yang perlu diwaspadai, jangan sampai Indonesia yang justru semakin dibanjiri produk China karena jadi pasar mereka," tuturnya.

Cari Peluang dan Tata Lagi

Lebih lanjut, Heri mengatakan bayang-bayang pengaruh perlambatan ekonomi China sejatinya bisa diminimalisasi bila Indonesia memiliki strategi jitu.

Pertama, ketika ekonomi China masih lesu akibat perang dagang dengan AS, maka dapat dipastikan China masih akan mengurangi impor minyak nabati dari AS. Ini merupakan peluang pertama bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi ekspor CPO sebagai komoditas subtitusi bagi kebutuhan minyak nabati China.

Bahkan, bila industri hilir CPO bisa lebih cepat bergerak, bukan tidak mungkin produk turunan dari CPO bisa masuk ke China. "Tinggal bagaimana pemerintah bisa bargaining ke pemerintah dan dunia usaha di sana agar mau menggunakan CPO lebih banyak. Mungkin dengan skema baru, produk baru, atau tukar dengan investasi," terangnya.

Kedua, pemerintah harus bisa mencari celah untuk mengontrol derasnya impor dari negara yang terkenal dengan tembok raksasanya itu. Misalnya, dengan memberlakukan pengenaan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk-produk China yang masuk ke Tanah Air.

Langkah ini, katanya, bisa dijadikan sebagai cara mengontrol sekalipun menjamin penggunaan komponen dalam negeri oleh industri China. "Ini bukan saja upaya yang beralasankan untuk melindungi industri dalam negeri, tapi juga konsumen atas barang yang tidak terstandar, tapi unggul karena murah saja," jelasnya.

Cara lain, misalnya dengan menggunakan isu lingkungan. Sebab, China terkenal menjadi salah satu negara paling banyak menyumbang sampah plastik. "Mungkin ini hal yang seakan dibuat-buat seperti biasanya dilakukan negara-negara maju semacam AS, Eropa, Jepang. Tapi ini memang bisa juga untuk mulai menahan impor besar dari China, selama tidak melanggar WTO," ujarnya.

Ketiga, mengompensasi penurunan ekonomi dari impor tinggi China dengan investasi di bidang industri dan teknologi. Menurut Heri, agar ada keseimbangan bagi pertumbuhan ekonomi Tanah Air, maka tidak ada salahnya untuk melobi-lobi lagi China agar mau mengalirkan investasi lebih banyak, khususnya di teknologi.

Hal ini, sambungnya, sama seperti yang dilakukan China ke AS. China meminta pabrik-pabrik pembuatan ponsel pintar nan canggih AS bisa dibangun di negaranya agar China juga bisa 'menyontek' pengembangan teknologi AS. "Yang perlu diwaspadai, jangan sampai investasi mereka masuk, tapi mereka justru menggunakan bahan baku dan tenaga kerja mereka sendiri. Harus bisa pakai dari domestik," ucapnya.

Keempat, ketika ekonomi China belum dan sudah membaik pun, maka Indonesia tetap perlu mencari pangsa pasar baru. "Ini untuk mengurangi ketergantungan. Pasar baru bisa ke Afrika, Amerika Latin," imbuhnya.

Senada, Myrdal menilai Indonesia memiliki peluang untuk tetap memacu pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah masifnya perkembangan e-commerce. "Ini peluang untuk mendapat tambahan pendapatan negara. Maka, sistem perpajakan perlu didukung untuk bisa menangkap peluang tersebut," katanya.

Sementara Hariyadi mengatakan untuk mengimbangi kinerja perdagangan dengan China, kalangan pengusaha sebenarnya tengah mengupayakan agar transaksi perdagangan bisa menggunakan mata uang lokal kedua negara. Sebab, selama ini masih menggunakan dolar AS dan nilai nominal ekspor-impor jadi terpengaruh kurs.

"Tapi kami butuh dukungan dari Bank Indonesia dan bank sentral China untuk bisa melakukan ini. Kami harap ada dukungan, jadi tidak pegang dolar AS melulu," pungkasnya. (agi)

Sumber: CNN Indonesia

photo gallery

Rabu, 23 Januari 2019 |