Hadapi Perang Dagang, Pengusaha Minta Pemerintah Genjot Investasi




Pertumbuhan Ekspor Kuartal III 2018 MenurunSebuah Perahu nelayan melintas di dekat kapal yang mengangkut peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/11). (Merdeka.com/ Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, tantangan ketidakpastian ekonomi global masih sangat nyata pada 2019.

Salah satu yang harus diwaspadai adalah perang dagang AS-Tiongkok yang belum pasti kapan akan berakhir. "Kami sebagai pelaku usaha di Indonesia melihat kepastian global ini masih nyata. Perang dagang walaupun dengan apapun negosiasi Amerika dan Tiongkok, kita belum ada kepastian mau dibawa kemana," kata dia, saat ditemui, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, seperti ditulis Selasa (8/1/2019).

Meskipun demikian, dia menegaskan perang dagang AS-Tiongkok juga memberikan peluang bisnis. Eskalasi perang dagang tentu akan membuat industri di Tiongkok untuk merelokasi bisnis ke tempat lain, termasuk Indonesia.

"Kita melihat kesempatan adanya perang dagang ini Tiongkok harus berhati-hati, mereka harus memiliki base baru karena mereka tidak bisa lagi ekspor produknya dari Tiongkok," ujar dia.

Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan adalah mendorong terciptanya iklim investasi yang kondusif agar dapat menarik bagi investor. "Ini mungkin satu kesempatan juga bagi Indonesia. Mereka juga banyak melihat relokasi contohnya. Apa ini sesutu yang kita bisa mengambil manfaatnya," ungkapnya.

Dia pun berharap pemerintah ke depan iklim investasi di Indonesia terus dibuat mudah agar Indonesia tak kalah menarik dari negara-negara kompetitor.

"Tinggal sekarang berlomba siapa yang mengambil peluang yang lebih besar. Makanya kesiapan kita sangat penting. Kita harus membuat iklim investasi yang baik. Bagaimana caranya Indonesia menjadi tempat di mana mempermudah untuk berinvestasi sehingga peluang-peluang yang kita kembangkan dengan adanya ketidakpastian ini bisa menjadi prioritas," ujar dia.

"Jadi jangan kita duduk diam. Negara-negara kompetitor kita seperti Vietnam, mereka sudah melihat apa yang harus kita lakukan," ia menambahkan.


Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com




photo gallery

Rabu, 09 Januari 2019 |